Langsung ke konten utama

AKU DATANG DARI HATIMU

    (Suparman Tampuyak)

Ical nampak terburu-buru menuju halaman parkir dan langsung masuk ke dalam mobil. 

“Jadi, langsung ke bandara?” tanya Amat dengan raut muka bingung setelah Ical berada di dalam mobil. 

“Iya, besok ada jadwal kegiatan,” Ical memperbaiki posisi duduk dan mengarahkan pendingin ruang mobil ke wajahnya yang nampak kusut.

“Bukan main kau itu,” sambung Amat dengan aksen Kaili. Amat sahabat Ical sejak SMA telah lama bermukim di Kota Palu yang mayoritas penduduknya Suku Kaili. Setidaknya hal ini memengaruhi aksennya dalam komunikasi sehari-hari.

“Pagi datang, sore pulang. Macam te ada teman kau di sini.” Sambil menjalankan dan mengarahkan mobil ke arah jalur bandara.

Ical hanya tersenyum  sambil menikmati “Dia-nya Anji” dan memandangi sibuknya Kota Palu di siang hari dari balik kaca hitam mobil. Lima belas menit kemudian mereka tiba di bandara.

“Lantas, kapan?’
            
“Maksudmu?’ Ical balik bertanya seraya meneguk kopi hitam di hadapannya. Siang itu Ical dan sahabatnya mengambil waktu makan siang dan ngopi di kafetaria Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu. Alasan maka siang di bandara, pastinya, agar tidak ketinggalan pesawat.
            
“Yaelaah… Kau ini.”        
            
“Oh, iya.” Ical paham jalan pikiran sahabatnya. 
           
“Itulah, makanya cepat-cepat sudah Kau cari pendampingmu.”
            
“Belum ketemu kasian.”
           
“Alasanmu begitu-begitu terus.”
            
Ical adalah anak tertua satu-satunya yang belum kawin. Adik laki-laki Ical telah mengakhiri masa lajangnya tiga tahun lalu. Adik perempuannya telah memasuki usia satu tahun perkawinan. Tinggalah Ical yang masih menikmati masa lajang.
            
“Pokoknya tunggu saja,” sambung Ical sambil tertawa lepas seperti melepaskan tekanan di ruang sidang tadi.
            
Adoh, saya belum chek-in,” Ical mengeluarkan tiket dan melihat waktu chek-in. “Kau tunggu sebentar. Saya ke ruang chek-in dulu,” seraya berdiri.
            
“Ehh, Kau bawa saja ranselmu ini,” balas Amat, “kasihan kamanakanku menunggu di sekolah. Waktunya dijemput kasian.” Berdiri dan menuju ke arah kasir untuk membayar makanan dan minuman mereka.
            
“Astaga iya.”
           
“Hati-hati, salam sama keluarga di Luwuk,” sambil menjabat tangan Ical, “cepat-cepat jo … jangan menunggu ponakanmu lulus kuliah.” Isyarat santai tapi kode karas bagi Ical.
           
“Siap.”
            
Ical mengantar sahabatnya ke tempat parkir mobil.  Kedua sahabat itupun berpisah. Setelah itu, Ical menuju ke ruang chek-in. Selang beberapa menit kemudian Ical menuju ruang tunggu keberangkatan. Sebelum sampai di ruang keberangkatan, Ical melewati bagian pemeriksaan yang dilengkapi teknologi pemindai tubuh penumpang dan bagasi kabin pesawat. 
            
Di depan Ical, nampak seorang gadis memunggunginya sedang menjalani pemindaian. Sepintas sepertinya Ical mengenali gadis tersebut dari cara mengikat rambut. Sementara Ical sibuk melepaskan ikat pinggang dan mengeluarkan dompet serta dua unit telepon genggam dari saku celana untuk dipindai.  Ical tak sempat mengenali lebih dekat gadis yang telah lenyap dari bagian pemindaian.
            
Pemindaian lewat. Ical menuju ruang keberangkatan. Telepon genggamnya berbunyi.  “Ah, dering tanda hape so lemah.  Tapi, ada fasilitas cas di ruang tunggu,” gumam Ical.
           
Setibanya di ruang tunggu, Ical memerhatikan keadaan ruang tunggu sambil mencari-cari tempat mengecas. Beberapa penumpang sedang asik bercakap. Beberapa yang lainnya bergerombol di ruang ‘ahli hisap’ di sudut kanan tak jauh dari pintu masuk. Ruang tunggu tujuan Palu-Luwuk cukup luas sehingga Ical harus mengalihkan pandangannya dari satu titik ke titik lain. Sampai di satu titik, Ical melihat tempat pengecasan berdiri kokoh. Tempat pengecasan tersebut lebih tepatnya terletak di samping tiang besar.           
            
Ical menuju dan duduk di samping tempat pengecasan. Setelah menghubungkan kabel daya telepon genggam ke sumber listrik, Ical mengeluarkan sebuah buku catatan dari ranselnya. Entahlah apa yang ditulisnya. Yang jelas, Ical melalaikan suasana di tempat itu. Penumpang mulai berdatangan. Ia asik menulis. Selesai menulis, buku catatan dimasukannya kembali ke ranselnya.
            
“Permisi, Bang”.
            
Ical sontak kaget. Suara itu begitu sangat dikenalnya bahkan sangat hafal warna suaranya. Pelan Ical mengarahkan pandangan ke arah suara yang menyapanya. 
            
“Kau?” pelan gadis itu menyapa Ical. Tapi, nada suara tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
            
“Kau?” suara Ical sedikit tersekat dan bergetar karena menahan gemuruh perasaannya.
            
Ternyata benar. Ririn, gadis yang dilihatnya di bagian pemindaian tadi. Ririn, pada masa kuliah, salah seorang mahasiswi yang aktif di beberapa organisasi kampus. Sejak semester tiga aktif di lembaga himpunan mahasiswa jurusan ilmu antropologi. Bahkan pernah menjadi ketua lembaga tertinggi kemahasiswaan tingkat universitas. Dan berhasil selesai kuliah tepat waktu.
            
Ical dan Ririn sama-sama aktivis kampus. Ical lebih memilih bergerak pada aktivitas kesenian. Cenderung memilih panggung untuk menyuarakan nurani yang terbebat oleh keadaan pada waktu itu. Prinsipnya mereka berdua mempunyai idealisme yang sama. Setidaknya bukan mahasiswa yang kelihatan huraisme-nya ketika berlibur di kampung halaman.
            
Pertemuan mereka sebenarnya bermula dari pertunjukan teater yang disutradarai Ical. Kebetulan naskah yang dipentaskan menyuguhkan tema perempuan. Ical mengangkat kisah novel “Perempuan di Titik Nol” karya Nawal Elshadawi. Sejak pentas itulah, diskusi antara Ical dan Ririn berkesinambungan. Selanjutnya lewat diskusi dan pertemuan demi pertemuan lahir benih-benih senyawa yang tak dapat dibendung. Lebih dari hubungan sesama aktivis.
           
“Ririn?”
            
“Ical?” 

Seketika Ririn menghempaskan dirinya di samping Ical.
           
“Sebentar, Aku mengecas hp-ku. Masih ada waktu sedikit sebelum berangkat.” 
            
Ririn memasukan kabel daya ke sumber listrik yang tak jauh dari jangkauannya.
           
“Oh, iya,” sahut Ical yang masih tak percaya atas pertemuan ini.
            
“Jadi, Kau di Luwuk sekarang?” tanya Ririn sesantai mungkin dengan khas Kaili. Yang sebenarnya ingin menutupi letupan perasaannya.
           
“Iya, sejak selesai kuliah langsung pulang kampung.”
            
Ical tak kuat memandangi wajah yang pernah mendebatnya habis-habisan setelah pertunjukan naskah “Perempuan di Titik Nol.”
            
“Dan hilang entah kemana,” sambung Ririn dengan sedikit senyum memandangi mata Ical. Mata yang menyimpan jejak pertemuan mereka.
           
“Beee … nyatanya ada dihadapanmu hehehe ...” Ical mencoba santai tapi nampak melihat kisah mereka kembali di kelopak mata Ririn. Kisah yang sangat menguat di batin Ical.
            
“Cal,” sapaan akrab Ririn buat Ical. “Komiu di Palu dalam rangka … ?”
           
“Saksi ahli.”
            
“Bukan main. Hebat. Biar kutebak, Komiu pasti menangani kasus yang berkenaan dengan Linguistik Forensik. Iya kan?”
           
Ical mencoba mengelak.

“Jangan mengelak!” sergah Ririn.

“Kau, ke Luwuk?” balas Ical.

 “Biasa. Narsum untuk seminar penguatan muatan lokal.”

“Jadi …,” dahi Ical berkerut bingung.
            
“Iya, Dr. Syam berhalangan hadir dan besok kita sama-sama hadir di Graha Pemda. Dalam jadwal tercantum pembanding atas nama Muh, Rizal ‘Ical’ seseorang yang meninggalkan sepotong hati dan masih merindukannya hehehehe …. Tabe Ical” potong Ririn dengan gaya bicara ketika mereka masih menjadi aktivis kampus. “Dari beberapa sumber, katanya kau mengajar di kampus?
            
“Iya. Juga dari sumber terpercaya, kudapat informasi komiu antroplog di Untad Palu. So jadi doktor. Masih muda lagi.” balas Ical dengan santai.
            
Tawa mereka pecah bersamaan dengan suara panggilan masuk ke badan pesawat untuk penumpang jurusan Luwuk. Mereka pun mengemasi telepon genggam dan bergegas menuju pintu keberangkatan. Boleh jadi pintu kehidupan baru mereka. Sangat bertepatan Ical dan Ririn duduk bersama dalam kabin pesawat. Ical mengeluarkan sebuah buku catatan dan membuka halaman yang baru ditulis di ruang tunggu. Lantas menyerahkan kepada Ririn. Tulisannya begini:

Di ruang tunggu
kita berdua menunggu keberangkatan
dengung mesin pendingin menyeret kisah kita
dan jejak mata pun saling merekam

“Kau?”

“Aku datang dari hatimu,”
seketika rindu meledak berhamburan di angkasa
lantas puisi mencatatkan indahnya diam
               
Ririn memandangi Ical di sampingnya. Kali ini hati dan perasaan mereka beradu saat pesawat membumbung menuju Kota Luwuk.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DONGENG

I HODI KA I GEO Utu mae, dagi ko olitau anu mosangalu. To olitau aijo sanggo nu aha I Geo ka I Hodi. Aha ma isa ko pakalajaan. Aha biasa molio kau i alas da opo baluk ka mongolu. Pakalajaan na obau ola polioan mongkan sansina - sina. Ka tudunannyo, mongkalaja uka sina, anu ohumpak ola pongkan uka sina. I Santu u sina no sintokamo na I Geo ka I Hodi ka binasalemo na aha da mamba mongulu. Bai aha aide mbak ko pongulu ka duangan. I Hodi ka I Geo bina pikilmo mosia da aha mohumpak duangan ka pongulu. Tinonginaumo na aha da monsabol duangan belie Babo Ise. Nambamo na aha belie Babo Ise anu dagi I papayan. Tinokamo na aha I papayan, nosintakamo  ka I Babo Ise. Aha nompo hampemo makasud da monsabol duangan ka pongulu I Babo Ise. “Mosia na lele Babo Ise?” pokilawai I Hodi. “Aide, ima-imanyo,” koi Babo Ise. “Babo Ise, aidemo na nulio mami,” koi I Geo “Apaa… na oliu miu?” pokilawai Babo Ise mule. “Anulio mami mate duangan,” koi I Hodi. “Bee.. duangan I ...

UNDU-UNDUON NU SALUAN

LABOBODO Utu nae ko mian anu ponga manteng, sahingga mian sanang mombel sanggonyo toba I Laobodo. Kosansinanyo aitu osowanyo manembele toba ahi mobaat. Kopihinyo nongipino aitu osowanyo. I uno ipionnyo aijo tinoka mian mompoto'i ia konyo, "Pasakitum atino bisa moalin, kalu ako mohae monginum pakuli lengket bua u kawu. Sanggonyo aitu bua u kumang-kumang." Noko nobangun nompokilawamo na oine I Labobodo konyo, "Daang kita toho nompia bua kau kumang-kumang?'' Konyo osowanyo, ''Oh daang, aku to ho nompia bai jongannyo hamo inginanku." ''Kalu humo atina, "konyo I Labobodo, "Sina uka aku mombamo molio bua kau atina naoko maulua ma'alim," I.a.pas taijo ia nambamo ahi. Togonga ualas mbahan sinumbu-sinumbunyo ia nosihumpak tobai Mantebenge. nompokilawamo aitu Mantebenge belei I Labobodo, "He, oko atina mamba monyo?" "Aku aya mamba molio bua kumang-kumang bau pakuli mosia osowangku masakit...

LEGENDA

ASAL-USUL AIR TERJUN HANGA-HANGA Konon, dahulu kala di kota Banggai yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banggai, banyak terdapat sumber (air jatuh), sungai-sungai besar dan mata air. Banyaknya sumber air itu membuat Kerajaan Banggai menjadi sangat subur. Kesuburannya Bumi Banggai di tambah tekunnya rakyat dalam mengolah lahan, menjadikan sebagian besar rakyat Banggai dapat hidup makmur dan sejahtera karena hasil bumi mereka selalu melimpah ruah. Kondisi alam yang ramah menjadi lengkap dengan hadirnya pemimpin -Raja Adi Cokro- yang sangat amanah. Adi Cokro pun dikenal bijaksana. Wajar jika Kerajaan Banggai jadi sangat terkenal karena rakyatnya hidup damai, sejahtera dan aman sentosa. Suatu ketika ketentraman dan kebahagian yang dirasakan rakyat Banggai jadi terganggu. Rakyat Banggai tidak bisa lagi menuai panen dari lahan mereka. Karena lahan pertanian mereka mengalami kekeringan dan kekurangan air. Padahal saat itu bukan musim kemarau. Kekeringan dan...