Langsung ke konten utama

Ritual Pengobatan


Ritus Mombolian
(Pengobatan Orang Sakit)

Mombolian adalah ritual yang sering digunakan untuk pengobatan terhadap orang sakit, terutama untuk penyakit-penyakit yang sulit terdiagnosa ataupun sulit disembuhkan oleh dokter. Hingga saat ini, sebagian masyarakat Balantak terutama yang tinggal di wilayah pedesaan masih percaya bahwa penyakit pada seseorang tidak hanya disebabkan oleh hal-hal kasat mata seperti dalam pandangan medis modern, tetapi disebabkan pula oleh mahluk halus yang berdiam di hutan atau di sekitar tempat mereka berkebun.

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh makhluk halus umumnya terlihat biasa tetapi sangat sulit disembuhkan meskipun sudah berkali-kali mendapat penanganan medis modern. Untuk menyembuhkannya maka orang Balantak melakukan ritual mombolian. Untuk memastikan bagaimana proses penyembuhan dan berapa besar pengorbanan yang harus diberikan maka dilakukan ritual mumulos dan atau metode-metode ritual diangnosa yang lain. Selain sebagai ritus penyembuhan pada orang sakit, mombolian juga dilaksanakan untuk menolak bala (bencana) yang mungkin akan menimpa tanah Balantak.

Pada zaman dahulu mombolian juga dilaksanakan pada saat pergelaran tarian rakyat sumawi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ritus mombolian tidak hanya terbat untuk pengobatan. Pihak-pihak yang terlibat dalam upacara ini adalah keluarga dari pihak yang sakit dan bolian (dukun pelaksana ritual mombolian). Ritual ini tidak memiliki pantangan.

Hal-hal yang dipersiapkan dalam ritual ini adalah sebagai berikut: 1) Kemenyan; 2) Buah Sirih; 3) Kapur Sirih; 4) Uang logam 5) Tembakau, dan   6) Daging persembahan, biasanya potongan daging ayam yang sudah dimasak dan berjumlah ganjil (tiga, lima, tujuh dan seterusnya). Mombolian dilakukan setelah terjadi perubahan kondisi pasien yang sedang sakit. Jika keadaannya terlihat mulai membaik maka melaialah pelaksanaan ritual mombolian. Proses ritual ini tidak berlangsung lama, karena hanya membaca mantera dan menyebutkan bahwa hal-hal yang disyaratkan untuk kesembuhan pasien sudah disediakan dan prosesnyapun sudah dilaksanakan. Setelah itu, biasanya seorang bolian akan mengunjungi tempat yang diyakini sebagai penyebab sakitnya seseorang dan membaca mantera juga. 

Sumber: Dihimpun dari berbagai sumber.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DONGENG

I HODI KA I GEO Utu mae, dagi ko olitau anu mosangalu. To olitau aijo sanggo nu aha I Geo ka I Hodi. Aha ma isa ko pakalajaan. Aha biasa molio kau i alas da opo baluk ka mongolu. Pakalajaan na obau ola polioan mongkan sansina - sina. Ka tudunannyo, mongkalaja uka sina, anu ohumpak ola pongkan uka sina. I Santu u sina no sintokamo na I Geo ka I Hodi ka binasalemo na aha da mamba mongulu. Bai aha aide mbak ko pongulu ka duangan. I Hodi ka I Geo bina pikilmo mosia da aha mohumpak duangan ka pongulu. Tinonginaumo na aha da monsabol duangan belie Babo Ise. Nambamo na aha belie Babo Ise anu dagi I papayan. Tinokamo na aha I papayan, nosintakamo  ka I Babo Ise. Aha nompo hampemo makasud da monsabol duangan ka pongulu I Babo Ise. “Mosia na lele Babo Ise?” pokilawai I Hodi. “Aide, ima-imanyo,” koi Babo Ise. “Babo Ise, aidemo na nulio mami,” koi I Geo “Apaa… na oliu miu?” pokilawai Babo Ise mule. “Anulio mami mate duangan,” koi I Hodi. “Bee.. duangan I ...

UNDU-UNDUON NU SALUAN

LABOBODO Utu nae ko mian anu ponga manteng, sahingga mian sanang mombel sanggonyo toba I Laobodo. Kosansinanyo aitu osowanyo manembele toba ahi mobaat. Kopihinyo nongipino aitu osowanyo. I uno ipionnyo aijo tinoka mian mompoto'i ia konyo, "Pasakitum atino bisa moalin, kalu ako mohae monginum pakuli lengket bua u kawu. Sanggonyo aitu bua u kumang-kumang." Noko nobangun nompokilawamo na oine I Labobodo konyo, "Daang kita toho nompia bua kau kumang-kumang?'' Konyo osowanyo, ''Oh daang, aku to ho nompia bai jongannyo hamo inginanku." ''Kalu humo atina, "konyo I Labobodo, "Sina uka aku mombamo molio bua kau atina naoko maulua ma'alim," I.a.pas taijo ia nambamo ahi. Togonga ualas mbahan sinumbu-sinumbunyo ia nosihumpak tobai Mantebenge. nompokilawamo aitu Mantebenge belei I Labobodo, "He, oko atina mamba monyo?" "Aku aya mamba molio bua kumang-kumang bau pakuli mosia osowangku masakit...

LEGENDA

ASAL-USUL AIR TERJUN HANGA-HANGA Konon, dahulu kala di kota Banggai yang menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Banggai, banyak terdapat sumber (air jatuh), sungai-sungai besar dan mata air. Banyaknya sumber air itu membuat Kerajaan Banggai menjadi sangat subur. Kesuburannya Bumi Banggai di tambah tekunnya rakyat dalam mengolah lahan, menjadikan sebagian besar rakyat Banggai dapat hidup makmur dan sejahtera karena hasil bumi mereka selalu melimpah ruah. Kondisi alam yang ramah menjadi lengkap dengan hadirnya pemimpin -Raja Adi Cokro- yang sangat amanah. Adi Cokro pun dikenal bijaksana. Wajar jika Kerajaan Banggai jadi sangat terkenal karena rakyatnya hidup damai, sejahtera dan aman sentosa. Suatu ketika ketentraman dan kebahagian yang dirasakan rakyat Banggai jadi terganggu. Rakyat Banggai tidak bisa lagi menuai panen dari lahan mereka. Karena lahan pertanian mereka mengalami kekeringan dan kekurangan air. Padahal saat itu bukan musim kemarau. Kekeringan dan...